Sabtu, 12 Januari 2013

Menikmati Pesona Kelimutu Dan Mitos Burung Arwah


Komhukum (Ende) - Matahari baru menyembul setengah ketika langkah kakiku menata tangga di danau tiga warna yang berada di Kabupaten Ende, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tak asing lagi danau yang namanya telah terkenal di seantero Nusantara. Danau Kelimutu.

Pesona danau Kelimutu di Kabupaten Ende, Flores, NTT dengan keajaibannya yang luar biasa ini telah memaksa banyak wisatawan untuk mengunjungi dan menikmati keindahan dari fenomena perubahan-perubahan warna air tiga kawah Kelimutu.

Kawah Tiwu Ata Polo yang selalu menunjukan warna merah, Kawah Tiwu Nua Muri Koo Fai berwarna hijau zambrud dan kawah Tiwu Ata Mbupu yang berwarna putih. Pesona dari ketika kawah inilah yang membuat khayalak umum menyebut danau Kelimutu dengan nama Danau Triwarna (tiga warna) walaupun pada momen-momen tertentu ketiga kawah ini menampakan warna yang seragam.

Selain pesona dari fenomena danau triwarna ini, di kawasan seluas 5.356,5 hektar ini juga ditemukan aneka flora dan satwa liar yang tergolong langkah. Salah satunya burung Garugiwa (Pachycephala Nudigula). Burung dengan kepala warna hitam sedangkan badan, sayap hingga ekor berwarna hijau kekuningan ini merupakan spesies endemik di kawasan ini dan tidak terdapat di tempat lain.

Saat kaki melangkah menuju puncak kawah Danau Kelimutu sekitar pukul 08.00 Wita maka akan nampak kiciauan yang sangat variatif dari burung-burung jantan garugiwa. Semarak kicauan burung yang keras dan nyaring, bersahutan, menghiasi pagi di Danau Kelimutu bagaikan sambutan Selamat datang yang ramah dan menghangatkan desiran angin dingin di pegunungan kelimutu.

Burung Garugiwa biasanya akan berkicau mulai pukul 06.00 hingga 10.00 Wita. Kicauannya juga berbeda-beda sesuai ketinggian. Pada kawasan 1.400 meter di atas permukaan laut ada sekitar 12 kicauan. Bahkan menurut warga lokal pada ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut terdapat burung-burung yang memiliki sekitar 17 kicauan.

Keistimewahan inilah yang membuat masyarakat setempat menyebutnya sebagai burung arwah. Selain sulit ditangkap, burung ini juga muncul hanya saat tertentu. Maka tak mengherankan banyak warga yakin jika Danau kelimutu ini dijaga oleh Burung arwah ini.

Selain keyakinan ini, masyarakat setempat percaya perubahan warna air kawah kelimutu juga diibaratkan sebagai isyarat akan terjadi sesuatu di negeri ini. Masyarakat etnik Lio yang menghuni kawasan ini meyakini Kelimutu sebagai tempat yang sakral dan kampung para leluhur.

Dari segi etimologis, nama Kelimutu yang terdiri dari kata "Keli" yang berarti gunung dan "Mutu" yang bermakna berkumpul para leluhur. Dengan demikian bagi pengunjung di Danau ini dilarang berbicara dan melakukan hal-hal yang melawan dengan kodrat.

Peringatan ini dapat  terlihat pada pintu gerbang (Pere konde) yang tertulis, danau ini dijaga Konde Ratu, Sang Penguasa. Danau Tiwu Ata Polo adalah "markas" arwah orang jahat, Danau Tiwu Nua Muri Koo Fai menjadi istana arwah kawula muda sedangkan Danau Tiwu Ata Mbupu merupakan singgasana arwah kaum sepuh yang bijaksana.

Dengan demikian tak mengherankan jika pesona keindahan dan keajaiban alam Kelimutu ini diselimuti dengan dengan mitos-mitos yang diejahwantahkan secara nyata dalam berbagai ritual magis tetap memberi pesona yang tak akan kecewa jika dinikmati. (K-5/El)

0 komentar:

Posting Komentar